Dr. H. Shobahussurur, M.A.

Pengurus Takmir Masjid Agung Al Azhar

Sesungguhnya cita-cita yang ingin diraih oleh setiap jamaah haji adalah predikat haji mabrur. Mabrur itu sendiri berarti maqbul (yang diterima), yaitu haji yang diterima oleh Allah. Lawannya adalah haji mardud (yang ditolak), yaitu haji yang ditolak oleh Allah.

Haji maqbul (yang diterima) adalah haji yang tidak dicampuri oleh dosa, riya (karena orang), tidak berkata-kata kotor (rafats), fasik, dan perkelahian (jidal). Haji yang dierima adalah haji yang dilakukan sesuai dengan syarat rukun dan wajib haji yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Haji mardud (yang ditolak) adalah haji yang dilakukan dengan penuh dosa, riya karena orang, melanggar ketentuan-ketentuan haji, berkata kotor, berkelahi dan menipu selama menjalankan ibadah haji. Para jamaah yang mardud (yang ditolak) itu tidak memenuhi panggilan Allah, tidak ada keberuntungan, karena makanan yang dimakan adalah haram, dan pakaian yang dipakai juga haram.

Haji mabrur adalah lebih dari haji maqbul (yang diterima). Haji mabrur, selain diterima, hajinya dapat mengantarkannya kepada kehidupan setelah ibadah haji menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Rasulullah Saw. Memberikan contoh kebaikan seorang haji mabrur dengan bersabda:

“Di antara umrah yang satu dan umrah lainnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika ditanya apakah haji mabrur itu ya Rasulullah S.a.w? beliau menjawab: “member makan dan berkata-kata baik”. (H.R Ahmad) mabrur itu terkait dengan pola bermu’amalah (berprilaku) dengan orang lain, santun dalam bertutur kata dan mudah membagi apa apa yang dimiliki kepada orang lain. Maka perilaku kejam, kasar dan bengis bukanlah perilaku seorang haji mabrur. Perilaku seorang haji mabrur adalah lembut, sejuk, sopan, dan bersahaja. Sikap pelit, kikir rakus dan tama bukanlah sikap seorang haji mabrur. Sikap seorang haji mabrur adalah santun, dermawan, dan sayang.

Potret haji mabrur tergambar sejak persiapan melaksanakan haji, proses ibadah haji berlangsung, dan setelah menunaikan ibadah haji. Pada saat persiapan haji, tampak seorang haji menyiapkan bekal, baik makanan, minuman, maupun ongkos haji dari bekal yang halal, tidak ada unsur haram di dalamnya. Dia menyiapkan pula bekal mental, ilmu, dan kesehatan dengan sebaik-baiknya. Ketika proses haji berlangsung, dia dapat melaksanakan sesuai dengan tuntunan manasik haji yang disyariahkan. Setelah pelaksanaan haji, dia memiliki perilaku baik dari sebelumnya.

Haji mabrur terlihat pada perilaku dan akhlaknya, tidak hanya ketika sedang menjalankan ibadah haji, tapi dipelihara kebaikannya itu sampai pulang ke tanah air. Allah berfirman:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197).

Haji mabrur itu dapat terlihat pada perilaku seorang ketika selesai menunaikan ibadah haji, baik perilaku yang terkait dengan hubungan vertical dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame manusia (habl min al-nas). Secara vertikal, seorang haji mabrur semakin kokoh ikatan aqidahnya, semakin kuat imannya, dan rajin mendekatkan diri kepada Allah. Secara horizontal, seorang haji mabrur semakin menyayangi sesama, melindungi, dan menolong orang-orang lemah, semakin banyak member dan berbagi. Hidup menjadi semakin santun dan banyak beramal saleh. Wallahu a’lam bisshawab.