Musibah besar kembali menimpa jamaah haji di Tanah Suci tahun ini. Jumat 24 September 2015, puluhan ribu umat dari berbagai Negara saling berdesakan berjalan menuju jumrah aqabah di Mina roboh dan saling injak di jalan 204. Menurut data sampai dengan tulisan ini dibuat, kejadian ini telah merenggut lebih dari 2.400 korban syahid, termasuk 123 orang berasal dari Indonesia, sementara ratusan lain masih dalam perawatan di rumah sakit dan sebagian lain masih hilang belum kembali ke maktab masing-masing. Beberapa hari sebelumnya, 11 September 2015, badai pasir disertai hujan menyerang Makkah Al Mukarramah yang membuat terjungkalnya sebuah crane raksasa setinggi 186 meter yang digunakan untuk pekerjaan renovasi Masjidil Haram, mengakibatkan 107 meninggal dunia, termasuk 12 orang jamaah asal Indonesia. Belum lagi beberapa peristiwa kebakaran hotel yang memaksa jamaah mengungsi sementara ke hotel-hotel lain.

Insiden di jalan menuju jamarat ini kembali menggugah ingatan pada peristiwa “terowongan Mina” ketika ribuan jamaah yang akan pergi dan pulang melempar jumrah terjebak di terowongan muaisim-Mina yang menelan korban lebih dari 1.426 jiwa, termasuk 631 orang dari Indonesia, pada tanggal 2 Juli tahun 1990. Menurut catatan pada tahun 2006, 2004, 2001, 1998, 1997, 1994 juga terhadi musibah di Mina yang membawa korban ratusan jiwa jamaah haji walaupun tidak sebanyak peristiwa pada 1990 dan 2015.

Rangkaian musibah yang terjadi di Tanah Suci ini dapat dipastikan tidak berpengaruh apapun terhadap semangat umat dari seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan kewajiban melaksanakan ibadah haji dan umrah. Motivasi untuk menunaikan rukun Islam kelima ini tetap tinggi dan antrian untuk berhaji di setiap Negara (mayoritas) Islam, termasuk Indonesia, terus bertambah panjang. Di negeri ini setiap calon haji harus rela menunggu setidaknya 15 tahun untuk bisa diberangkatkan secara regular atau 5-6 tahun untuk jalur khusus (onh plus) disertai keharusan lebih dulu membuka tabungan haji dengan menyetorkan dana lebih dari 50% dari keseluruhan biaya perjalanan haji.

Perintah berhaji yang termaktub dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 27 dan surat Ali Imran ayat 97 telah menggugah kesadaran umat untuk menunaikan ibadah haji dengan keikhlasan dan kesabaran tanpa batas hanya karena Allah, seperti yang ditanamkan dalam latihan-latihan manasik haji, telah menjadikan jamaah haji kebal terhadap berbagai rasa takut dan khawatir akan terkena musibah ketika berhaji. Karena memang tidak akan terjadi apapun kecuali dengan izin Allah swt. Belum lagi terdapat pula suatu keyakinan kuat bahwa wafat di Tanah Suci lebih mulia ketimbang di tempat lain. Menunaikan ibadah haji sama artinya dengan berangkat melaksanakan jihad. Dapat dimaklumi bahwa ketika melepas anggota keluarga yang akan berangkat haji seluruh keluarga akan berurai air mata penuh haru, karena selain akan pergi ke tempat yang jauh di bagian bumi lain, jamaah haji akan menghadapi bermacam-macam ‘cobaan’ yang bisa saja membuat mereka tidak kembali lagi ke rumah.

Musibah di mina ini telah memunculkan berbagai pandangan dan analisa mengenai penyebab terjadinya kemalangan yang kemudian dikaitkan dengan perseteruan antara Syiah-Iran dengan pemerintah Saudi Arabia. Sebuah informasi menyebutkan kejadian ini timbul karena penutupan sesaat jalur jalan menuju jamarat untuk memberikan jalan bagi rombongan Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman yang terdiri dari ratusan orang, telah menimbulkan kepanikan luar biasa sehingga jamaah yang berdesakan jatuh bergelimpangan. Berita ini telah menyulut kemarahan pihak Syiah-Iran yang menuding pemerintah Saudi tidak becus mengurus pelaksanaan iabadah haji. Namun kesaksian lain menyebutkan bahwa insiden Mina disebabkan jamaah dari Iran yang tidak tertib. Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa insiden diawali dengan terburu-burunya para jamaah haji dari Iran untuk melewati dan menerobos rute jamaah lainnya seraya berkampanye tentang ide revolusi Iran.

Sumber lainnya mengatakan bahwa seorang petugas pelaksanaan Tawaf untuk jamaah haji Iran yang tak disebutkan namanya mengkonfirmasi bahwa insiden itu terjadi karena sekitar 300 jamaah haji asal Iran dating dari arah yang berlawanan, menyebabkan kekacauan sehingga para jamaah berdesakan dan terinjak-injak, ada pula laporan lain yang menyebut insiden Mina merupakan ulah dinas rahasia Israel Mossad yang akan menculik ilmuwan nuklir Iran, termasuk dubes Iran di Libanon, yang hingga kini belom ditemukan, sehingga dibuatlah kerusuhan dengan menggunakan zat kimia tertentu yang menimbulkan kepanikan.

Menumpahkan semua kesalahan penyebab terjadinya musibah Mina kepada pemerintah Saudi Arabia tentu sangat tidak tepat. Selama ini pun bisa disaksikan bahwa pemerintah Saudi telah banyak berbuat dalam menyempurnakan pelayanan terhadap jamah haji dari seluruh dunia. Setiap tahun ada saja perbaikan fasilitas dan perubahan pengaturan diluncurkan yang makin meringankan jamaah dalam beribadah. Mengatur kebutuhan dan pergerakan lebih dari 2 juta orang dalam waktu yang sama menuju tempat yang sama tentu bukan hal yang mudah. Sedangkan di negeri ini mengatur pembagian zakat atau daging kurban yang cuma melibatkan ribuan orang terkadang juga rusuh dan menimbulkan korban.

Keikhlasan atau kepasrahan jamaah menghadapi kondisi apapun dalam menjalankan ibadah di Tanah Suci diimbangi Khadimul Haramain dengan upaya yang maksimal untuk menciptakan kenyamanan dan kelancaran bagi seluruh tamu Allah tersebut. Saat ini tersedianya hotel-hotel setidaknya berkelas dan berfasilitas bintang tiga, banyak juga yang bintang empat, untuk menampung jamaah di Makkah dan Madinah; atau tersedianya bus-bus mewah untuk “menjembatani” jamaah dari lokasi hotel yang jauh ke masjidil haram atau untuk mengangkut jamaah Madinah-Makkah-Jeddah dan sebaliknya; penyediaan makanan yang yang makin mendekati selera jamaah, semua itu sangat melegakan. Belum lagi kemudahan-kemudahan lain yang dapat dinikmati oleh seluruh jamaah. Sekalipun ada yang beranggapan wajar perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi karena Negara tersebut juga memperoleh keuntungan ekonomi luar biasa dari kedatangan jamaah haji dan umrah dari seluruh penjuru dunia sepanjang tahun, namun harus pula diapresiasi itikad baik dan kerja keras Negara tersebut untuk terus menerus mengupayakan terobosan-terobosan baru bagi kenyamanan dan kelancaran umat beribadah.

* Sumber : Warta Al Azhar [Hal: 16.17]