“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Q.S: Al Anfal ayat 27)

Berkaitan dengan Jujur dan Amanah ini, ada suatu kisah yang patut diungkapkan sebagai pendahuluan tulisan ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar, suatu hari ia melakukan perjalanan jauh bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah al Munawarah menuju Makkah al Mukarramah. Di tengah perjalanan mereka melihat ada seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah Umar bin Khathab untuk menguji kejujuran anak gembala itu. Kemudian mereka berdua menghampirinya, lalu Khalifah Umar bin Khathab berkata : "Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu itu." Selanjutnya si anak gembala menjawab "Kambing-kambing ini milik tuanku, aku hanya seorang budak, yang tidak berhak menjualnya,".

"Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala," lanjut Khalifah Umar. Kemudian si gembala menjawab lagi dengan sebuah pertanyaan, "Lalu, di mana Allah?" Mendengar jawaban seperti itu, Khalifah Umar tertegun sambil meneteskan air mata ia pun berkata :

"Kalimat “di mana Allah” itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak."

Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh amanah, memiliki disiplin dan loyalitas yang tinggi terhadap orang yang memberi tugas, ia tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.

Islam mengajarkan berlaku jujur kepada setiap orang, apa pun profesinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, sebagaimana yang diceritakan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud :

Dari Abdullah bin Mas'ud RA, ia berkata : Rasulullah Saw. bersabda, “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)”.

Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati oleh orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang dengan serta merta akan mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat. Dari sini, maka muncullah spekulasi kebohongan, menghalalkan segala cara, menumpuk harta kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah dia lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat.

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan perbuatan dosa besar antara lain berzina, berjudi, merampok dan lain sebagainya. Dengan sangat jujur dia menceritakan perbuatannya ini kepada Rasulullah Saw. Singkat cerita setelah Rasulullah Saw. memahami apa yang telah diceritakan oleh sahabat tersebut, kemudian beliau memberi nasihat kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong".

Pada awalnya, ia menganggap begitu ringan nasihat dan permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan untuk berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Rasulullah Saw. Sedangkan untuk berkata jujur bahwa dia telah berbuat kejahatan, dia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan penuh kesadaran dia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah Saw.

Jujur baru merupakan sebuah ungkapan yang sering kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi boleh jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; Khusus untuk muamalah itu sendiri memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan lain sebagainya.

Jujur merupakan salah satu sifat yang terpuji. Allah Swt. menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka berita itu dapat dikatakan benar atau jujur, akan tetapi kalau berita itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, maka berita itu dapat dikatakan dusta. Kejujuran itu tidak hanya pada ucapan, akan tetapi juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, sudah barang tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan. Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur, karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya kejujuran (kebenaran) sedangkan nifaq asasnya kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara keimanan dan kedustaan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Rasulullah Saw menganjurkan kepada umatnya untuk selalu berlaku jujur, karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan kepadanya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw.“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama. Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama dan juga tanda kesempurnaan bagi seseorang. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan. Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, Rasulullah Saw, bersabda :

“Jual beli itu dengan al-khiyâr (hak pilih) selama belum berpisah atau hingga keduanya berpisah. Apabila keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang dagangannya) maka jual beli mereka mendapatkan berkah dan bila keduanya menyembunyikan aib dan berdusta maka berkah jual beli mereka dihapus”.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezkinya lancar, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemuliaan dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akhirat. Bukankah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya dan memujinya, baik teman maupun lawan merasa tenteram dengannya. Berbeda dengan pendusta, temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur jika diberi amnah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia, kalau kemudian ia melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya dengan izin Allah akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya, kalau pun terkadang diharapkan kejujurannya itu pun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sahlah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka dia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majelisnya memberikan berkah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan mengharap ridho Allah Swt. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah Swt. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang telah wafat dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Jika masyarakat dibangun atas dasar kejujuran, maka akan terasa indah dan semua akan saling percaya. Jika diambil salah satu contoh dalam cerita pada masa Rasulullah Saw, ada sebuah masjid yang pernah memiliki dua kiblat sehingga disebut masjid kiblatain, yaitu kiblat yang menghadap Masjid Al-Aqsa dan kiblat yang menghadap Masjidil Haram. Ketika turun ayat tentang perintah berubahnya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram, maka Rasulullah Saw. mengutus para sahabatnya (ba’da shalat dzuhur) untuk menyeru kepada masjid-masjid agar mengubah kiblatnya. Masjid Kiblatain dahulunya disebut masjid Banu Salamah. Ketika utusan Rasulullah Saw. tiba di masjid itu, (Masjid Banu Salamah) kaum muslimin ketika itu sedang melaksanakan shalat Ashar, lalu utusan Rasulullah Saw. itu meneriakkan dan memberitahukan bahwa kiblat kita sudah berpindah (berubah).

Bayangkan jika berita itu terjadi pada masa sekarang atau hari ini? barangkali ada dua kemungkinan, yakni acuh tak acuh atau mungkin shalatnya akan bubar. Tapi waktu itu karena setiap mukmin itu jujur dan tidak pernah berbohong, maka makmum beserta imam serentak pindah arah kiblatnya karena yang memerintah orang mukmin dan yang mendengarpun orang mukmin. Tetapi kalau sekarang, akan terasa repot kalau tidak melakukan tabayyun (cek dan ricek). Karena yang mendengarkan sering berbohong dan yang menyampaikannya pun juga sering berbohong, pada akhirnya sama-sama saling suudzan (berburuk sangka). Kita sering kali sulit untuk menerima berita, karena kebanyakan berita yang beredar di tengah-tengah masyarakat bukan suatu kebenaran melainkan suatu issu yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, sifat jujur wajib dipelihara oleh setiap muslim. Dengan jujur kita akan mudah meraih prestasi dan keridhaan Allah Swt. Namun, jika menjadi pendusta, kita akan dikucilkan dalam masyarakat dan hidup tidak akan tenang. Semoga kita semua menjadi orang yang jujur disisi Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan sesama manusia. Sesunguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Sumber : Buletin Jum'at Masjid Agung Al Azhar