Saat ini sedang tren istilah move on. Move on itu artinya pindah atau bergerak maju. Memang para remaja biasanya mengaitkan kata move on itu dengan masalah percintaan. Kalau lagi putus cinta maka biasanya dianjurkan oleh temannya “udah move on aja” artinya “cari aja yang lain” begitulah kira-kira.

Dalam kaca mata Islam Move On atau pindah dapat diartikan Hijrah. Makna Hijrah dalam bahasa Arab mengandung arti pindah, meninggalkan, menghindari atau menjauhi. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW bukan tanpa sebab. Intimidasi yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah dan umat Islam pada saat itu salah satu sebab Rasulullah dan kaum muslimin akhirnya hijrah. Rencana maker kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah Allah abadikan di dalam Al Qur’an :

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al Anfal: 30)

Darunnadwah tempat tokoh-tokoh Quraisy berkumpul. Mereka merencanakan seperti apa yang Allah sebutkan dalam ayat di atas. Mereka memutuskan unuk memilih salah satu opsi diantara beberapa opsi di atas yaitu membunuh Rasulullah SAW. Maka mereka membuat sayembara siapa yang berhasil membunuh Muhammad, maka mereka akan mendapat hadiah 1000 ekor unta.

Sayembara tersebut banyak diminati terutama di kalangan pemuda-pemuda Quraisy. Mereka sangat berharap untuk mendapatkan hadiah yang luar biasa tersebut. Mulailah jelang sore hari kondisi kota Mekkah mencekam. Orang tak banyak yang berani keluar rumah. Masyarakat pada saat itu membayangkan akan terjadi pertumpahan darah yang sangat luar biasa.

Orang-orang yang akan membunuh Rasulullah pun akhirnya sampai di rumah Rasulullah. Mereka membuat pagar betis mengelilingi rumah Rasulullah dengan harapan Rasulullah tidak bisa lari kemana pun karena sudah mereka kepung. Dalam rumah Rasul, hanya ada Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib yang berada di rumah itu. Namun dengan ijin Allah akhirnya Rasulullah selamat keluar dari rumah tersebut.

Di Madinah Rasulullah membangun kekuatan umat. Beliau langsung memberikan pembinaan kepada umat Islam. Pemantapan keyakinan, ukhuwah antara muhajirin dan anshor terus beliau lakukan sampai akhirnya umat betul-betul bersatu pada saat itu. Perjanjian Hudaybiyah ditanda tangani antara kaum muslimin dari Madinah dan suku Quraisy Mekkah. Namun perjanjian Hudaybiyah tersebut dikhianati oleh orang-orang Quraisy sampai akhirnya Abu Sufyan dating ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian tersebut namun ditolak oleh Rasulullah SAW.

Pada tahun ke-8 Hijrah Rasulullah beserta 10.000 pasukan kaum muslimin bergerak menuju Mekkah. Beliau langsung memimpin penaklukan kota Mekkah. Ketika beliau beserta dengan pasukan memasuki kota Mekkah tidak ada perlawanan dari penduduk Mekkah. Mereka menyerah kepada pasukan Rasulullah. Rasulullah dan pasukannya pun akhirnya masuk ke kota Mekkah dalam keadaan damai tanpa ada setetes darah pun yang mengalir. Beliau memaafkan kesalahan-kesalahan masa lalu yang telah mereka lakukan kepada kaum muslimin.

Pertolongan Allah telah dating. Kaum Quraisy pada saat itu berbondong-bondong masuk Islam. Allah abadikan dalam surat An Nasr (1-3) : “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.”

Selepas Fathu Mekkah (Penaklukan kota Mekkah) Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hijrah setelah Fathu Mekkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Maka apabila kalian diperintahkan jihad, maka berangkatlah.” [HR. Bukhari 3077 dan Muslim 1353].

Hijrah secara tempat saat ini sudah tidak kita lakukan lagi. Namun hijrah yang artinya meninggalkan sesuatu yang tidak baik kearah yang lebih baik harus tetap kita lakukan. Banyak orang yang berat meninggalkan kebiasaan buruknya selama ini dikarenakan sudah terlalu menikmati kehidupannya saat ini. Melalaikan perintah Allah karena sudah menjadi kebiasaan akhirnya sulit untuk meninggalkannya. Bergaya hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah berat terasa untuk diubahnya karena melihat sekelilingnya melakukan hal yang sama dengannya.

Hijrah menjadi pribadi yang lebih dekat dengan agama memang tidak mudah. Perlu perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melakukannya. Factor utama yang dapat mengubah segalanya adalah niat. Kekuatan niat menjadi sangat luar biasa mengubah kebiasaan-kebiasaan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Salah satu contoh adalah bagaimana kita bisa mengubah kebiasaan sholat subuh yang sering kesiangan. Tentu diperlukan niat yang kuat. Mengapa saat Ramadhan kita bisa bangun sebelum adzan subuh berkumandang untuk makan sahur terlebih dahulu, karena niat. Demikian juga orang akan bangun saat adzan subuh berkumandang jika memang betul ada niat di dalam hatinya untuk bangun di waktu subuh. Demikian pula untuk hal-hal kebiasaan-kebiasaan lain yang kurang baik dapat diubah dengan niat yang kuat. Jadi tunggu apa lagi? MOVE ON YUK!

Sumber : Warta Al Azhar