Artinya :

Orang-Orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Surat Al-Baqarah 2:275)

1. Mukadimah

Tidak sedikit orang berbicara tentang riba, kemudian mengaitkannya dengan berbagai kegiatan usaha seperti bank, asuransi dan lain sebagainya. Sementara itu kita sendiri jarang mendengar penjelasan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan riba itu sendiri. Kita sering mendengar bahwa bunga itu riba, padahal keuntungan jual beli juga disebut bunga atau keuntungan yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan رِبْحٌ(Ribhun).

Pada buletin Jumat ini penulis mencoba menulis tentang hal tersebut secara singkat, mudah-mudahan dapat memberi gambaran apa sebenarnya yang dimaksud dengan riba tersebut. Karena sebagai seorang muslim tidak boleh cepat-cepat mengatakan ini halal dan itu haram. Yang boleh mengatakan halal dan haram hanyalah Allah SWT, bukan manusia seperti firman Allah SWT dibawah ini:

Artinya :

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya Haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?" ( Surat Yunus 10:59)

2. Pengertian Riba

Riba menurut arti bahasa adalah tambahan. Akan tetapi tidak semua tambahan disebut riba. Sedangkan menurut istilah riba ialah tambahan atau perolehan apa saja yang didapat dengan adanya unsur kedzaliman, yaitu yang merugikan, menyulitkan atau meninggalkan kewajiban. Perolehan apa saja dengan adanya salah satu unsur tersebut, itulah yang disebut dengan riba.

Artinya :

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Surat Al-Baqarah 2:279)

Contoh: Perolehan Yang Merugikan

  1. Orang menjual bahan material berupa kayu bangunan. Pedagang mengatakan bahwa kayu yang bapak beli semuanya kayu kamper dengan kualitas nomor satu. Padahal sebagian kayu tersebut dicampur dengan kayu borneo yang kualitasnya juga nomor satu. Perolehan pedagang tadi jelas merugikan si pembeli dan itulah yang disebut dengan riba.
  2. Orang menjual gas elpiji, si penjual mengatakan tabung ini isinya 12 kg penuh padahal sudah dikurangi 1 kg, sehingga berat hanya 11 kg. maka perolehan keuntungan penjual tadi adalah riba karena merugikan orang lain.

Contoh: Perolehan Yang Menyulitkan

  1. Karena kemarau panjang harga beras begitu tinggi dan susah sekali didapatkan. Kemudian penjual sengaja menimbun beras tersebut di gudang dan seminggu kemudian ia menjualnya dengan menaikkan harga jual, umpamanya dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.300 darn masyarakat pasti membelinya. Maka hasil yang Rp 300 itu disebut riba karena menyulitkan orang lain.
  2. Penjual menjual gas elpiji kepada masyarakat yang sedang sulit memperoleh gas. Kemudian pedagang sengaja menimbun gas tersebut. Dan esoknya ia menjual gas tersebut dengan harga baru dengan menaikkan harga Rp 500. Masyarakat yang kesulitan gas terpaksa membelinya, walaupun pedagang tadi tidak mengurangi isi tabung gas, akan tetapi tambahan tadi disebut dengan riba karena menyulitkan orang lain.

Contoh: Perolehan Dengan Meninggalkan Kewajiban

Pengusaha berusaha dengan tekun, untung yang diperolehnya sangat banyak akan tetapi dia tidak mau mengeluarkan zakatnya. Perolehan seperti ini disebut dengan riba karena meninggalkan kewajiban yaitu tidak mengeluarkan zakat.

Demikianlah beberapa contoh tentang riba. Sekali lagi, riba yaitu perolehan yang mengandung salah satu unsur yaitu perolehan yang merugikan, yang menyulitkan dan meninggalkan kewajiban.

3. Macam – Macam Riba

Dalam ajaran agama Islam, riba itu ada dua macam:

1. Riba Fadl

Kelebihan dari Jual Beli sistem BARTER.

Yang dimaksud dengan riba fadl disini yaitu kelebihan pada salah satu harta sejenis yang diperjual belikan dengan urusan syarak (sejenis timbangan tertentu seperti literan atau kilogram). Contohnya 1 kg beras dijual dengan 11/4 kg beras yang lain. Maka kelebihan seperempat kilogram itu disebut riba fadl. Ini biasanya berlaku dalam barter, bukan barang ditukar dengan uang.

Artinya :

Dari Abu Hurairah: ia Berkata “Bersabda Rasulullah SAW: “Juallah emas dengan emas sama timbangannya dan sama bandingannya (karatnya) dan Juallah perak dengan perak dan sama timbangannya dan sama bandingannya (karatnya), maka barangsiapa menambah atau minta tambah maka ia itu Riba.(Hadits Riwayat Muslim)

2. Riba Nasi’ah

Kelebihan atas piutang yang diberikan oleh orang yang berhutang kepada pemilik modal sampai waktu jatuh tempo yang disepakati. Apabila sudah jatuh tempo yang disepakati ternyata orang yang berhutang tidak sanggup membayar hutangnya dan kelebihannya, maka waktunya bisa diperpanjang dan jumlah hutang bertambah pula. Itulah yang disebut dengan riba Nasi’ah.

Bunga atau Keuntungan tersebut merupakan Keuntungan besar bagi yang meminjamkan dan sangat merugikan sipeminjam.

Tambahan serupa inilah yang terjadi pada masa jahiliyah tempo dulu yang disebut riba Nasi’ah.

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Imran (3) : 130)

4.  Bagaimana Kaitan Riba Dengan Bank, Asuransi dan sebagainya.

Menurut hemat saya, bank adalah institusi atau badan yang mempertemukan antara nasabah dan debitur yang dibalik itu semua adalah usaha. Dengan demikian bank itu bersifat produktif, bukan konsumtif. Oleh karena itu transaksi bank itu menguntungakan pengelola dan pemilik harta dan tidak saling merugikan karena dasarnya bagi keuntungan.

Contoh:

  • Nasabah : Bapak, saya menyimpan uang milik saya di bank ini sebesar 1 Milyar. Berapa bapak akan bagi keuntungan dengan saya ?
  • Bank : Ya, kami berikan keuntungan kepada bapak sebesar 4%.
  • Nasabah : Bapak, bank lain mau memberikan keuntungan kepada saya sebanyak 5%. Kira-kira bapak mau menambahkan atau tidak ?
  • Bank : Kalau begitu kami bersedia bagi keuntungan dengan bapak 5% Pada saat yang bersamaan datanglah debitur
  • Debitur : Bapak, saya ingin pinjam uang sebesar 1 Milyar untuk usaha saya, yaitu membangun apartement.
  • Bank : Baik pak, setelah syarat-syarat dipenuhi, diantaranya sertifikat tanah milik, izin bangunan, hak guna bangunan dan surat-surat lain dipenuhi, maka permohonan bapak kami terima. Berapa bapak akan memberi keuntungan kepada kami ?
  • Debitur : Kami bisa memberi keuntungan kepada bapak sebesar 5%
  • Bank : Wah, nasabah saja kami beri keuntungan 5%, sementara karyawan kami harus di gaji, listrik, telepon dan pajak harus dibayar. Bagaimana kalau 9% ?
  • Debitur : Baik kalau begitu

Nah, mestinya bank tersebut operasionalnya seperti itu untuk hal-hal yang produktif bukan konsumtif, yakni dibalik transaksi diatas meja ada usaha yang menguntungkan kedua belah pihak. Memang sepintas lalu keuntungan hasil jual beli dan riba tampaknya sama padahal keduanya berbeda.

V. Penutup

Demikianlah sedikit gambaran tentang riba yang sebenarnya menurut tuntunan ajaran agama islam. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semuanya. Amin

 

Sumber : Buletin Jum'at Masjid Agung Al Azhar