Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Allah dengan sesuatu dalam beribadat kepada NYA". (QS. Al Kahfi (18) : 110)

I. Mukaddimah

Agama Islam disebut Agama Tauhid yang merupakan paham Ketuhanan yang Maha Esa, yang menurut Al Qur’an paham Ketuhanan yang Maha Esa tersebut adalah inti dari seluruh ajaran Allah SWT kepada manusia yang diturunkan secara bertahap melalui Rasul-Rasul Allah sejak zaman nabi Adam a.s sampai zaman nabi Muhammad SAW,Walaupun didalam Al Qur’an Allah hanya menyebutkan beberapa Rasul akan tetapi sebenarnya Allah mengutus Rasul banyak sekali sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Artinya : dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil. (QS. Al Mu’min (40) : 78)

Disamping amal shaleh, keyakinan akan keesaan Allah merupakan persyaratan yang harus dimiliki oleh setiap manusia, kalau ingin bertemu dengan Allah nanti dalam keadaan bahagia.

II. Keesaan Allah dalam berbagai kitab suci

Keesaan Allah merupakan inti dari ajaran Agama Islam dan disebutkan dalam berbagai kitab suci, diantaranya :

a) Dalam kitab suci Al Qur’an, antara lain sebagai berikut :

Artinya: dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah (2) : 163)

Artinya: Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thahaa (20) : 14)

Artinya : Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa., Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu., Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan., dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al Ikhlas (112) : 1-4)

b) Dalam kitab suci orang Yahudi yaitu Perjanjian Lama, antara lain disebutkan sebagai berikut :

“Dengarlah orang orang Israel Tuhan Allah kita, tuhan itu esa” (Ulangan 6 :4)

“Lagi ia berfirman akulah Allah ayahmu, Allah Ibrahim, Allah Ishaq, Allah Yakub, lalu musa menutup mukanya sebab ia takut memandang Allah” (Keluaran 3 : 6)

“Sebab itu engkau benar ya Tuhan Allah, sebab tidak ada yang sama seperti engkau dan tidak ada Allah selain engkau menurut yang kami tangkap dengan telinga kami “ (2 Samuel 7: 22)

“Segala bangsa yang engkau jadikan akan datang sujud menyembah dihadapan MU ya Tuhan dan akan memuliakan MU, sebab engkau BESAR dan melakukan keajaiban-keajaiban, engkau sendiri saja Allah” (Mazmur 86 : 9-10)

c) Dalam kitab suci orang Nashrani yaitu Injil disebutkan antara lain sebagai berikut:

“Hukum yang terutama ialah dengarlah, hai orang-orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa” (Markus 12 : 29)

“Enyahlah iblis, sebab ada tertulis, engkau harus menyembah tuhan Allah-MU dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mathius 4:10)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah engkau UTUS” (Johannes 17:3)

“Kata malaikat itu kepada nya: jangan takut hai manusia sebab engkau beroleh kasih karunia dihadapan Allah” (Lukas 1 : 30)

III. Unsur yang merusak ajaran Tauhid

Menurut ajaran agama, manusia rawan untuk dikuasai oleh THAGUT yang tidak saja datang dari alam akan tetapi juga datang dari manusia itu sendiri

Artinya : dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (QS. An Nahl (16) : 36)

Apa sih sebenarnya yang disebut dengan THAGUT tersebut ? THAGUT mempunyai beberapa arti antara lain :

a) THAGUT adalah kekuatan yang merampas kemerdekaan, harta dan martabat manusia, contohnya tentang Firaun yang diceritakan dalam Al Qur’an

Artinya : Pergilah kepada Fir'aun; Sesungguhnya ia telah melampaui batas". (QS. Thahaa (20) : 24)

Firaun yang merupakan raja atau penguasa negeri Mesir, yang menindas rakyatnya. Firaun tidak memberi hak sedikitpun kepada rakyatnya untuk mengenal ajaran tuhan, bahkan ia sendiri dengan congkaknya mengaku sebagai tuhan dan memperbudak bangsa yahudi dengan merampas kemerdekaan, harta dan martabat mereka ketika itu. Akhirnya Firaun dibinasakan Tuhan dengan menenggelamkannya di Laut KALZUM.

b) THAGUT juga berarti berhala

Berhala adalah semua yang membawa kepada pembelengguan kebebasan dan setiap unsur yang mempunyai efek penguasaan kepada hidup seseorang. Contoh : Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung yang dibuat oleh ayahnya sendiri yang bernama Azar. Nabi Ibrahim as tidak dapat memahami bagaimana mungkin ayahnya menyembah patung-patung yang ia buat sendiri dan diikuti oleh masyarakat ketika itu. Nabi Ibrahim as menghancurkan patung tersebut dan hanya menyisakan sebuah patung besar dan ia menggantungkan sebilah kapak dileher patung tersebut. Kemudian ketika ia diinterogasi apakah Ibrahim yang menghancurkan patung-patung tersebut, Ibrahim hanya menjawab singkat sebagai berikut :

“Kalau ingin mengetahui siapa yang menghancurkan patung-patung tersebut tanya saja kepada patung yang terbesar yang ada kapak dilehernya”.

Orang-orang kafir tersebut tercengang dengan jawaban Ibrahim tadi dan tidak dapat berbicara lagi, namun hati mereka berkata “ benar juga yang dikatakan Ibrahim dan ternyata patung besar tidak dapat menjawab apa apa, tetapi aneh kenapa disembah oleh manusia”.

Karena itulah Nabi Ibrahim disebut BAPAK MONOTHEISME tiga agama besar yaitu Agama Yahudi, Nashrani dan Islam. Jadi yang dikendaki oleh paham tauhid, kita harus memusatkan penyembahan hanya kepada Allah tuhan yang maha esa. Dengan demikian paham tauhid tersebut mengangkat manusia kederajat yang tinggi sesuai dengan desain Allah sendiri. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Surat At Tiin (95) : 4.

Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Dan kalau saya gambarkan, jika alam raya ini sebagai kerucut, maka diujung puncak kerucut tersebut adalah kita manusia-manusia ini. Allah memuliakan manusia demikian rupa dan mengangkat derajatnya begitu tinggi oleh karena itu tidak patut kalau kita mempersekutukan Allah dengan menyembah batu, memuja gunung-gunung, Gajah yang dianggap tunggangan dewa wisnu, sungai-sungai yang dianggap keramat, kuburan para wali, dsb. Kalau kita mempersekutukan Allah dengan sesuatu berarti kita tidak menempatkan diri kita pada posisi yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebenarnya syirik dalam istilah Antropologi biasa disebut dengan MITOS dan kalau kita terkait dengan MITOS berarti kita kalah dengan benda.

IV. Islam dan ETICAL MONOTHEISME

Agama Islam dan ajarannya dalam bahasa ilmiah disebut dengan ETICAL MONOTHEISME yang berarti Agama yang berpusat pada ajaran Tuhan yang maha Esa. Tuhan menghendaki agar kita selalu berbuat baik sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah dan mendekatkan hati kepada sesama manusia, seperti contoh tentang ajaran berkurban pada hari raya Idul Adha yang baru saja kita lakukan. Berkurban hewan tesebut bukan Sacramen atau Sesajen, akan tetapi melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih hewan kurban tersebut dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan membagikan dagingnya kepada yang membutuhkannya dalam rangka mendekatkan hati kepada sesama manusia. Jadi dalam berkurban yang sampai kepada Allah justru ketaqwaan kita kepadaNYA, seperti disebutkan dalam Al Qur’an.

Artinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al Hajj (22) : 37)

Agama Islam, agama yang menghendaki agar manusia berbuat baik, sehingga ukuran tinggi rendahnya derajat manusia dihadapan Allah diukur dari Amal baik atau Amal Shalehnya disamping Akidah yang bersih dari kemusyrikan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an berikut ini :

Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Allah dengan sesuatu dalam beribadat kepada NYA". (QS. Al Kahfi (18) : 110)

Oleh karena itulah kita harus menjaga kemurnian dan kesucian tauhid kita, sebab kalau tidak kita akan terancam dengan hilangnya pedoman hidup kita yang benar. Disinilah peran ilmu begitu besar dan sangat luar biasa. Dalam kehidupan manusia Contohnya : seperti orang jepang yang memuja gunung fuji, Karena terjadi mitos maka terjadi praktek keagamaan terhadap gunung tersebut seperti memujanya dsb. Akan tetapi bagi yang mengetahui Geologi apalagi Vulkanologi itu bukan misteri, akan tetapi hanya gejala alam semata yang bisa kita pahami melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Agama Islam sendiri menekankan agar selalu menjaga keseimbangan Iman dan Ilmu Pengetahuan.

Artinya : ..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadilah (58) : 11)

V. Penutup

Demikian tulisan singkat buletin jumat ini mudah-mudahan menambah pengetauhuan kita bagaimana seyogyanya kita menjaga kemurnian atau kesucian tauhid kita dalam keadaan seperti apapun. Mudah-mudahan kita kembali kepada Allah kelak dalam keadaan khusnul Khatimah Amin.

Bibliografi 1. Al Qur’an dan terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an, Jakarta, 1970 2. Al Kitab Perjanjian Lama, Lembaga Al Kitab Indonesia, Jakarta, 1970 3. Al Kitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Modern, Lembaga Al Kitab Indonesia, Jakarta, 1970 4. Abu Razak Naufal, Al Qur’an dan Sains Modern, Penerbit Husaini, Bandung, Cet I, 1987 5. Abu Ferik Ibnu Muhabib, Sejarah Singkat tentang Bible dan Al Qur’an dalam hubungan antar Agama, Yayasan LPI, Jakarta, 1963 6. Mukti Ali, Prof. Dr. Asal Usul Agama, Yayasan Nida, Yogyakarta, 1969 7. Memed Sururi, Drs, S.Th., Eksistensi Ahli Kitab Sebelum dan Sesudah kerasulan Nabi Muhammad SAW (Tinjauan Sejarah, Bible dan Al Qur’an), Dian Vidya, Ciputat, 2015 8. Memed Sururi, Drs, Islam sebagai Aqidah, Syariah dan Ibadah, Dian Vidya, Ciputat, 2004