Artinya : …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahuiapa yang kamu kerjakan. (Surat Al Mujaadilah (58) : 11 )

I. Mukaddimah

Setiap manusia terutama kamu muslimin pasti mendambakan kebahagiaan hidup, tidak hanya bahagia hidup di dunia akan tetapi juga bahagia hidup di akhirat nanti, sebagaimana doa yang kita munajatkan setiap hari.

Artinya : …"Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka" (Surat Al Baqarah (2) : 201)

Namun kebahagiaan tersebut tidak mungkin kita capai hanya dengan mengandalkan kepada iman semata mata tanpa dibarengi dengan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi sebagaimana disampaikan Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Mujaadilah (58) ayat 11 tersebut diatas.

II. Peran Iman dalam Kehidupan Manusia Iman yang kuat paling tidak memberikan 2 dampak kepada manusia yaitu :

a. Memberi ketentraman bathin / hati Menurut arti bahasa Iman artinya Percaya. Menurut hemat saya, jangankan percaya kepada Allah, percaya kepada manusia saja hati kita menjadi tentram, bathin kita menjadi tenang.

Contoh : Kalau kita memarkir mobil ditempat parkir dan didalam kendaraan kita meninggalkan barang berharga dan uang ratusan juta rupiah. Pasti sebelum meninggalkan kendaraan, kita akan menengok kekiri dan kekanan untuk memastikan aman atau tidaknya kita parkir ditempat ini. Kalau kita kenal dengan tukang parkirnya bahwa dia orang yang baik, pasti kita akan tenang meninggalkan kendaraan kita dengan barang –barang berharga dan uang tunai ratusan juta tersebut.

Kenapa ? Karena kita percaya bahwa tukang parkir tersebut orang yang baik, tidak mungkin berbuat jahat kepada kita. Akan tetapi sebaliknya kalau tukang parkir tersebut tidak kita kenal, bahkan dari penampilannya sangat mencurigakan, tato dibadannya, rambutnya gondrong, gelang akar bahar ditangan kirinya, batu akik berderet dijari tangan kanannya, pasti yang timbul dari diri kita adalah buruk sangka terhadapnya. Hati kita akan mengatakan jangan-jangan dia preman kambuhan atau pencuri yang berseragam baju parkir, akhirnya timbul dalam diri kita rasa gelisah dan rasa takut. Oleh karena itu tentram atau tidaknya hati seseorang, tenang atau gelisahnya hati seseorang tergantung sejauh mana tingkat percaya atau tidaknya terhadap sesuatu. Nah kalau percaya pada seseorang saja dapat menentramkan bathin dan hati kita, apalagi percaya kepada Allah yang Serba Maha segala-galanya.

Contoh lain:  Seorang suami bekerja di kantor atau dimana saja pasti akan tenang hatinya, tentram bathinnya, kalau percaya bahwa istrinya berakhlak baik dan mustahil berbuat selingkuh dengan laki-laki lain. Akan tetapi pasti ia akan gelisah kalau kepercayaan itu hilang, bahkan sebaliknya ia akan curiga pada istrinya, jangan-jangan, jangan-jangan, begitu seterusnya. Begitu juga istri akan tentram mengurus rumah tangga kalau ia percaya bahwa suaminya berakhlak baik dan tidak mungkin selingkuh dengan bawahan atau teman sekerjanya. Disini peran percaya luar biasa dalam menentramkan hati seseorang.

b. Memberi Motivasi untuk Beramal Soleh

Kita sering mendengar bahkan menyaksikan orang berinfak dengan hartanya sekian dan sekian untuk kepentingan sosial, baik itu panti asuhan, anak-anak yatim dan dhuafa, membangun panti jompo, madrasah, masjid, dsb. Pertanyaan…? Kenapa mereka mau berinfak sedemikian besar..? Jawabnya : Karena iman mereka mendorong untuk beramal soleh. Mari kita perhatikan kisah pada masa Rasulullah SAW sebagai berikut :

- Rasulullah : Kenapa setiap hari kamu ada dimasjid ini..? Bagaimana engkau menafkahi dirimu, istri dan anak-anakmu

- Sahabat : Tentang masalah nafkah saya ada yang menjamin ya Rasulullah, baik untuk diriku untuk istriku maupun untuk anak anak ku.

- Rasulullah : Luar biasa orang itu..! Siapa dia..?

- Sahabat : Orang itu ialah Kakak Kandungku sendiri ya Rasulullah..

- Rasulullah : Kakakmu lebih soleh dari pada kamu..

- Sahabat : Kenapa demikian ya Rasulullah…!!!

- Rasulullah : Karena kakakmu bekerja membanting tulang untuk menghidupi dirimu istrimu dan anak-anakmu.

Pertanyaan : Kenapa Kakak orang tersebut mau memberi nafkah kepada mereka ? Jawabnya : Karena Iman mendorongnya untuk beramal soleh yang nilainya luar biasa dihadapan Allah.

III. Iman dan Ilmu pengetahuan

Sekuat kuat Iman seseorang tanpa dibarengi Ilmu Pengetahuan bisa saja keliru dalam melaksanakan ajaran agama. Contoh : Seorang berinfak habis habisan, ia infakkan seluruh perhiasannya untuk panti asuhan. Pada tahun berikutnya ia infakkan mobilnya dan tahun berikutnya ia infakkan juga rumahnya pada panti tersebut. Habislah hartanya untuk kepentingan masyarakat, Kenapa ia lakukan ? karena mendengar para ustad ceramah dimana mana bahwa 1 kebaikan yang dikeluarkan, Allah akan menggantinya dengan balasan yang berlipat ganda 10 sampai 700 x lipat.

Artinya : Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Surat Al An’am (6) : 160)

Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (Surat Al Baqarah (2) : 261)

Orang tadi tidak tau sedekah atau infak mana yang akan dibalas berlipat-lipat tersebut. Padahal infak yang dikeluarkan harus diluar kebutuhan pokok itulah infak yang diperintahkan Allah dan akan dibalas berlipat lipat.

Artinya : …dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (Surat Al Baqarah (2) : 219)

Kenapa terjadi kekeliruan dalam infak tersebut ? Karena ilmu tentang infak yang benar belum ia ketahui akibatnya salah dalam melakukan infak. Disini pentingnya ilmu agar kita tidak keliru dalam melaksanakan aturan agama.

IV. Ilmu Pengetahuan tanpa Iman

Manusia yang hanya mengandalkan ilmu pengetahuannya semata-mata dan mengesampingkan iman , hidupnya pasti kalah dengan burung.  Contoh : Seorang doktor bunuh diri,… Kenapa…? Kisahnya begini. Pukul 10.00 pagi doktor tersebut pulang dari kantor untuk mengambil berkas kerja yang tertinggal dirumahnya. Ketika sampai dirumah ia terkejut karena satpam tidak ada ditempatnya dan pintu rumah tidak terkunci. Dan ia lebih terkejut lagi ketika pintu ruang utama kamar tidurnya terbuka beberapa sentimeter dan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya sedang berzina dengan tetangga sebelahnya. Tanpa berfikir panjang ia mengambil racun tikus dan menenggaknya di kamar mandi dan seketika itu pula ia meniggal dunia.

Pertanyaan… ? Kenapa ia bunuh diri.. Jawabnya : Karena iman itu tidak ada dalam dirinya. Dari kisah singkat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup hanya dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dengan mengesampingkan iman, manusia hidupnya kalah dengan burung. Coba renungkan mana ada burung bunuh diri membenturkan dirinya ketembok atau tiang listrik gara gara pasangannya selingkuh.

V. Islam dan Ilmu pengetahuan

Masuk Islamnya seorang yang bernama Prof. Dr. Keet Moore seorang Laboran Kedokteran yang terkenal didunia yang berasal dari Kanada, hanya karena membaca beberapa Ayat Al Qur’an yang ia menyebutnya pada waktu itu ;Buku Kuno dari Padang Pasir; Ketika ia membaca Al Qur’an Surat Al Mu’minuun ayat 12, 13, dan 14, ia sangat terkejut sekali karena Al Qur’an yang diturunkan abad ke-7 kepada Nabi Muhammad berbicara tentang teori kedokteran abad ke-20, padahal Nabi Muhammad orang buta huruf. Ia meyakini Al Qur’an pasti wahyu dari Allah bukan seperti yang disangkakan buatan Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia pergi Ke Mesir bertemu dengan Rektor Universitas Al Azhar pada tahun 1960-an dan menyatakan ke-Islamannya. Mari kita perhatikan bunyi dari Surat Al Mu’minuun (23) : 12,13,14

Artinya : 12. Dan sungguh telah aku ciptakan manusia dari saripati yang berasal dari tanah 13. Kemudian aku menjadikannya Nutfah (Zigot atau Persenyawaan antara Spermatozoa dan Ovum) dalam tempat yang kokoh yaitu rahim 14. Kemudian aku jadikan Nutfah tersebut Alaqah (sejenis lintah yang melekat pada DECIDUAS atau Rahim, lalu aku jadikan segumpal daging yang lunak lalu aku jadikan pula segumpal daging tersebut menjadi tulang belulang yang sangat rawan dan kemudian aku membungkusnya dengan daging, lalu aku jadikan ia makhluk yang berbentuk lain yang disebut FETUS (Janin) pada usia minggu ke-8) Maha suci Allah pencipta yang Maha Baik.

Subhanallah.

Tentang Astronomi Al Qur’an menyatakan demikian :

Artinya : 1. demi langit dan yang datang pada malam hari, 2. tahukah kamu Apakah yang datang pada malam hari itu? 3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus, (Surat At Thariq (86) : 1,2, dan 3)

Ternyata bintang Thariq yang disebutkan dalam Al Quran tersebut baru ditemukan pada tahun 1967 oleh Cambridge University yang disebut dengan bintang Neutron. Bintang tersebut Garis Tengahnya +- 20 km dan memancarkan gelombang keseluruh arah dengan kecepatan +- 1.000.000/detik, yang sekarang dipergunakan untuk telekomunikasi antar Negara. Inilah 2 (dua) Penemuan Ilmiah yang dapat saya sampaikan dan masih banyak lagi yang belum terungkap sampai dengan sekarang dari isi Al Qur’an tersebut dan kita pun harus tetap berusaha untuk menyelidikinya.

Artinya : 87. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. 88. dan Sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi (Surat Shaad (38) : 87 dan 88)

VI. Penutup

Sebagai penutup saya berdoa semoga kita mampu meningkatkan iman dan ilmu pengetahunan yang keduanya ibarat 2 (dua) sisi mata uang dimana diantara 1(satu) sisi dengan sisi lainnya tidak dapat terpisahkan. Mudah mudahan buletin yang singkat ini dapat bermanfaat untuk kita. Amin ya Rabbal’alamin

Bibliografi 1. Al Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an, Jakarta, 1970 2. Abdul-A’la Maududi, Sayyid, Towards Understanding Islam, Islamic Publication LTD, Lahore Dacca 3. Hamka, Prof. Dr., Filsafah Hidup, PT. Jaya Murni, Jakarta, 1960. 4. Maurice Bucaille, Dr., Asal Usul Manusia menurut Bible, Al Qur’an dan Sains, Mizan Jakarta, 1978. 5. Memed Sururi, Drs., Islam sebagai Aqidah Syariah dan Ibadah, Pendidikan Islam Dian Vidya, Jakarta, 2005. 6. Rasyid H.M, Prof. Dr., Empat Kulliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Cetakan I, Bulan Bintang, Jakarta 1974 7. Yoesoef Souyb, Orientalisme dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.