Artinya : ...Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al ‘Ankabut : 17)

Artinya : ... dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah. (QS. Al Muzzammil : 20)

Masih banyak lagi ayat-ayat dalam al Quran yang berkaitan dengan bekerja ini. Bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajatnya, sehingga Allah Swt dalam Al Qur`an menggandengkannya dengan jihad memerangi orang-orang kafir. Bahkan Rasulullah Saw. menyebut aktifitas bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang mengatakan bahwa; bekerja itu adalah ibadah. Pernyataan ini dapat dikatakan benar dapat juga dikatakan salah, tergantung dari niat masing-masing orang yang mengucapkannya. Karena amal (bekerja) itu tergantung dari niatnya, sebagaimana diriwayatkan Bukhari, Muslim dan empat imam Ahli Hadits, Rasulullah Saw. bersabda :

Amal itu tergantung niatnya dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Niat adalah tolok ukur suatu amalan (pekerjaan); diterima atau tidaknya amalan itu tergantung dari niatnya. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang dapat naik ke derajat shiddiqin dan dapat jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya. Niat secara istilah adalah keinginan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tempatnya di hati bukan di lisan. Sesuatu itu dapat dikategorikan sebagai ibadah harus ada dalil dan tuntunannya sesuai syariah, bukan dengan pertimbangan akal semata atau pertimbangan selera kita. Kalau begitu timbul pertanyaan :

Apakah bekerja kemudian melupakan kewajiban yang lebih besar misalnya meninggalkan shalat lima waktu dapat dikatakan sebagai ibadah? Bukankah banyak orang yang melupakan shalat wajib karena alasan kesibukannya dalam bekerja? Apakah bekerja dengan melupakan hak-hak keluarga juga dapat dikatakan sebagai ibadah? Apakah bekerja dengan tujuan menjadi kaya dan menumpuk-numpuk harta kekayaan dapat dikatakan sebagai ibadah? Apakah bekerja kemudian hasilnya (hartanya) ia belanjakan di jalan yang tidak diridhai Allah juga dapat dikatakan sebagai ibadah? Dan lain-lain sebagainya…

Seseorang yang bekerja untuk mencari rezeki dengan tujuan menghidupi dirinya sendiri, keluarganya dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya, kemudian dia sedekahkan sebagian rezekinya (hartanya) kepada mereka yang membutuhkan. Dia tidak menggunakan hartanya untuk sesuatu yang tidak berguna, tidak boros dalam membelanjakannya, tidak bakhil dan tidak pula dia salurkan hartanya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Swt. Dia tidak menumpuk-numpuk hartanya lalu menghitung-hitungnya, tetapi dia keluarkan zakatnya setelah memenuhi nisab dan haulnya. Dia tidak menggunakan hartanya untuk berbangga-bangga dengan kesombongannya. Dia yakin bahwa hartanya adalah amanah dari Allah Swt. sehingga dia benar-benar dalam mendapatkannya dan membelanjakannya pun di jalan yang diridhai oleh Allah Swt. Karena dia amanah dalam mendapatkan hartanya, maka dia tidak melupakan kewajibannya kepada Allah Swt. In sya Allah, orang bekerja yang demikian inilah dapat dikatakan kerjanya sebagai ibadah.

Bekerja tidak hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain, sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda :

”Bersabda Nabi Saw. Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya”.(Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan dengan tangannya sendiri baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun kebutuhan anak dan isterinya dan tidak menjadi beban orang lain sangat ditekankan oleh Islam, bahkan Islam mengajarkan untuk hidup seimbang antara memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani, in sya Allah orang seperti ini dapat dikategorikan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu Islam memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda :

"Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha (bekerja) tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud As. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri." (HR. Bukhari)

Seseorang yang bekerja bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya seseorang yang tidak bekerja alias menganggur akan kehilangan martabat dan harga dirinya di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan hina. Tindakan meminta-minta (mengemis) merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah Swt. Bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia, sehingga Rasulullah Saw. memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Bekerja bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Bahkan Allah Swt. mengampuni dosa seseorang yang merasa kelelahan setelah pulang dari bekerja, sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda :

“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)

Setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh, tekun, ulet, dan teliti sehingga pekerjaan tersebut dapat memenuhi kehendak pelanggan dan dapat meningkatkan produktivitas serta memenuhi tanggungjawab yang diamanahkan oleh pemberi kerja. Kerja keras, bersungguh-sungguh, tekun, ulet, dan teliti merupakan salah satu akhlak terpuji (Akhlakul Mahmudah). Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa berusaha, baik dalam hal urusan dunia terlebih urusan akhirat. Islam tidak menghendaki pemeluknya hidup bertopang dagu / malas dalam berusaha. Kerja keras, tekun dan teliti merupakan salah satu kunci sukses dalam kehidupan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. al Qhashash ayat : 77)

Setiap pekerja harus berusaha dengan sebaik mungkin dan sanggup menghadapi segala masalah dengan bersikap sabar, tekun, berwawasan dan lain sebagainya. Jika pekerjaan atau tugas yang diamanahkan kepadanya kemudian ia kerjakan sambil lalu, itu tidak dibenarkan, karena Islam begitu tegas mengajarkan untuk bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bersikap professional, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. :

Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. (HR. Tabrani)

Kalau sekedar bekerja, bukankah semua orang melakukannya?, umat lain juga melakukannya! Bahkan kaum ateis pun bekerja. Lalu apa bedanya? Bekerja yang ajarkan oleh para Nabi tentu sangat berbeda. Bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar dan mencari harta, dan lain sebagainya. Bekerja yang dapat dikategorikan sebagai suatu ibadah, sekurang-kurangnya harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Motivasi kerja : pengabdian kepada Allah Swt, atau mencari ridha-Nya

2. Cara kerja : sesuai dengan syariat Islam Bidang kerja : halal, baik/ma’ruf Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua pihak (rahmatan lil alamin)

Bekerja dengan motivasi sebagai pengabdian kepada Allah (ibadah), semestinya selalu memberikan yang terbaik, selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan sekedarnya. Itulah yang dinamakan sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu ...“

Bekerja dengan motivasi ibadah, semestinya akan melahirkan kerja keras, tekun, jujur, tegar dan profesional dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan bekerja yang motivasinya jabatan misalnya, dia akan bekerja keras, tekun, tegar dan jujur, ketika dijanjikan atau diiming-imingi dengan suatu jabatan, jika tidak! dia bekerja seenaknya saja.

Begitu juga jika bekerja dengan motivasi ibadah semestinya akan bekerja dengan semangat tinggi, meskipun imbalan langsung tidak tampak, meskipun uang yang didapat tidak banyak, meskipun tidak ada yang melihat, meskipun tidak dipuji oleh atasannya, karena memang motivasinya adalah pengabdian kepada Allah. Karena Allah Swt. selalu ada, Dia selalu mengawasi dan selalu mengetahui apa yang kita kerjakan.

Jika suatu pekerjaan dilaksanakan dengan tulus ikhlas, in sya Allah pekerjaan itu akan diterima sebagai suatu ibadah dan akan mendapat pahala dari Allah Swt. Seseorang yang telah melaksanakan suatu pekerjaan harus sadar dan yakin bahwa balasan yang akan terimanya itu dalam pelbagai bentuk seperti upah atau gaji untuk di dunia dan pahala untuk di akhirat kelak. Akan tetapi, jika pekerjaan yang dilaksanakan itu diniatkan hanya untuk mendapatkan uang, maka hanya uang itulah yang akan diperoleh. Begitu juga jika pekerjaan yang dilaksanakan itu diniatkan agar terlihat rajin untuk mendapat pujian dari atasannya atau orang lain, maka hanya pujian itulah yang akan diperoleh. Namun jika pekerjaan itu dilaksanakan dengan tulus ikhlas, in sya Allah semua itu akan diperolehnya, baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat kelak. Oleh karena itu islam mengajarkan, setiap memulai suatu pekerjaan dianjurkan membaca : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ dan setiap apa yang dilakukan diniatkan karena Allah Swt.

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk sosial untuk hidup bermasyarakat dan saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, ada kebiasaan-kebiasaan (adat istiadat) yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang harus dipatuhi. Begitu juga dalam bekerja ada peraturan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh lembaga atau instansi tempat seseorang bekerja yang harus dipatuhi. Seseorang yang bekerja harus berdasarkan program kerja yang telah dibuat dan disepakati untuk mencapai tujuan dan sasaran. Oleh karena itu diperlukan kedisiplinan yang tinggi, karena pekerja yang disiplin akan dapat melaksanakan tugas dengan lebih cepat dan berkesan daripada pekerja yang tidak disiplin.

Kalau demikian, mengapa umat islam kini justru identik dengan umat yang malas, tidak dapat dipercaya, tidak disiplin, kurang etos kerja, bahkan korup? Ini kenyataan yang harus diakui bersama, dan menjadi tugas bersama untuk memperbaiki, mulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang!

Ternyata kini kita bekerja jauh dari semangat dan nilai-nilai Islam dan teladan para pendahulu kita. Kita juga memandang agama dengan cara yang salah. Kita menganggap bekerja dan ibadah adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Akibatnya sikap kita mendua dalam bekerja. Maka kini kita dapati kenyataan aneh seperti orang yang rajin beribadah (ritual) namun rajin juga menilap aset kantor, bahkan milik masyarakat, tidak jujur, atau suka main terabas.

Kita sudah shalat, namun shalat kita belum mampu membangun karakter, belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kita belum dapat menjadikan puasa sebagai perisai kita melawan tarikan nafsu-nafsu yang rendah. Kita belum mampu menjadikan haji sebagai total pengabdian kepada Allah Swt.

Masya Allah, kita beragama namun menjauh dari nilai-nilai agama. Kita beribadah ritual namun kita semakin menjauh dari petunjuk Allah. Kita lebih memilih topeng dalam beragama. Kita memilih kulitnya, lalu membuang isinya. Oleh karena itu, untuk mengakhiri tulisan ini, mari kita jadikan setiap ayunan langkah kaki kita dalam bekerja sebagai dzikir kepada Allah Swt. Kita jadikan setiap gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kepadaNya. Kita jadikan setiap ucapan dan pikiran dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kepada Allah Swt.

امِين يَارَبَّ الْعَالَمِيْن