1. Pengertian

Puasa berasal dari bahasa Sansekerta ‘’UPAWASA’’ yang berarti ‘’menahan atau mencegah’’ yang dalam bahasa arab disebut “Al Shaum” yang secara bahasa mengandung makna “mencegah atau menahan diri”, secara syari’ah Al Shaum berarti menahan hawa nafsu dari segala keinginan yang dapat membatalkan puasa itu sendiri seperti makan, minum dan berhubungan badan (jima’) antara suami-istri pada siang hari mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Seperti disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Artinya :

“.... dan makanlah dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) waktu malam” (QS. Al Baqarah/2 : 187)

2. Dasar Hukum Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan mula-mula diwajibkan pada tahun 2 Hijriyah di kota Madinah, dengan turunnya Surat Al Baqarah ayat 183, sebagai berikut :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah (2) : 183)

Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, menjalankan puasa Ramadhan itu sebanyak 9 (sembilan) kali Ramadhan. 8 (delapan) kali Ramadhan beliau berpuasa sebanyak 29 hari. Dan hanya sekali saja beliau berpuasa sebanyak 30 hari

Karena kadangkala bulan Ramadhan berjumlah 29 hari dan kadangkala pula berjumlah 30 hari, sebagaimana bulan-bulan hijriyah lainnya. Penentuan jumlah hari bilangan puasa Ramadhan ditentukan melalui dua cara atau 2 (dua) metode. Pertama metode rukyat, yakni dengan cara melihat awal bulan Ramadhan (al hilal) secara langsung dengan mata telanjang. Kedua memastikan awal bulan Ramadhan dengan perhitungan ilmu hisab berdasarkan Al Qur’an Surat Yunus (10) : 5

Artinya :

“Dia-lah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar (sebagai sumber cahaya) dan bulan bercahaya (sebagai panutan matahari) dan Dia tetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat peredaran bulan itu), supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.” (QS. Yunus (10) : 5)

3. Ketetapan Awal Ramadhan dan 1 Syawal 1437 H/2016 M menurut Hisab

Umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan apabila telah mendapatkan informasi tentang awal bulan Ramadhan melalui salah satu diantara dua hal sebagaimana tersebut diatas tadi.

Sesuai dengan Hasil Seminar (Mudzakarah) yang dilaksanakan oleh Dewan Syariah Al Azhar pada hari Rabu, 27 April 2016 dengan Narasumber Ahli : Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin (Pakar Astronomi-Astrofisika LAPAN), Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, MA (Pakar Astronomi, Hisab, Iptek, Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah), dan Dr. KH Slamet Hambali (Pakar Ilmu Pakar IAIN Walisongo, PP Lajnah Falakiyah PB.NU) kemudian dilanjutkan dengan Rapat yang dihadiri oleh : Pengurus YPI Al Azhar, Pengawas YPI Al Azhar, Dewan Syariah YPI Al Azhar, dan Pengurus Takmir Masjid Agung Al Azhar dengan Ketetapan, bahwa :

a. Awal / 1 (Satu) Ramadhan 1437 H / 2016 M jatuh pada hari Senin bertepatan dengan Tanggal 06 Juni 2016

b. Awal / 1(Satu) Syawal 1437 H / 2016 M, jatuh pada hari Rabu bertepatan dengan tanggal 06 Juli 2016

4. Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa itu ada 4 (empat) yakni:

1.) Islam

2.) Berakal Sehat artinya tidaklah wajib puasa itu bagi orang yang gila atau yang tidak sempurna akalnya.

3.) Dewasa / Baligh

4.) Mampu secara fisik artinya tidaklah diwajibkan puasa itu bagi orang yang benar benar lemah fisiknya seperti orang sakit dan orang yang telah lanjut usia.

5. Larangan Puasa

Ada waktu-waktu dalam setahun kaum muslimin diwajibkan berpuasa seperti dalam bulan Ramadhan. Namun ada pula waktu-waktu, kaum muslimin dilarang berpuasa. Ada lima hari dalam setahun, umat Islam tidak boleh berpuasa yakni:

1)Tanggal 1 Syawal atau Idul Fitri,

2)Tanggal 10 Zulhijjah atau Idul Adha,

3)Tanggal 11, 12, 13 Zuhijjjah dinamakan hari-hari Tasyriq.

Artinya :

Dari Anas semoga Allah ridha kepadanya. Anas berkata bahwa Nabi Muhammad SAW melarang puasa lima hari dalam satu tahun, yakni idul fitri, idul adha (hari nahar), dan tiga hari tasyriq (tanggal 11,12 dan 13 bulan Zulhijjah)” (HR. Ad Daruquthni)

Demikian pula wanita muslimah dilarang berpuasa ketika mereka mengalami menstruasi (haidh) setiap bulan. Juga sehabis melahirkan ketika masih keluarnya darah nifas.

“Dari Aisyah semoga Allah ridha kepadanya. Aisyah berkata: Adalah kami (wanita muslimah) disuruh oleh Rasulullah SAW untuk mengganti (qadha’) puasa yang kami tinggalkan karena haidh dan nifas, dan kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat yang kami tinggalkan karena haidh dan nifas” (HR. Al Bukhari)

6. Rukun Puasa

Sebagaimana perintah shalat, perintah puasa juga mempunyai rukun-rukun yang harus dipenuhi dan tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar mengakibatkan batalnya puasa tersebut. Rukun puasa ada 2 (dua) macam yaitu:

a) Berniat pada malam hari atau sebelum terbitnya fajar.

b) Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa.

Unsur niat dalam suatu pekerjaan merupakan unsur yang sangat penting dan niat diibaratkan laksana roh jiwa dalam sebuah tubuh. Tanpa roh atau jiwa tubuh akan layu, lemah dan mati. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

“Hanya sesungguhnya setiap amal-amal itu terletak pada niatnya. Dan hanya sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya pula.” (HR. Bukhari)

Begitu juga dengan puasa Ramadhan Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :

“ Dari hafsah semoga Allah ridho kepadanya, Hafshah mengatakan : “Rasulullah SAW telah bersabda: Barangsiapa yang tidak ber’azam (berniat) puasa sebelum fajar terbit, maka tidaklah dapat dikatakan dia berpuasa.” (HR. Abu Dawud)

Adapun dalam melaksanakan puasa sunat, niat puasa itu boleh diucapkan sebelum tergelincirnya matahari pada hari orang itu berpuasa, sebagaimana dijelaskan oleh al hadits dari ummul mukminin Siti Aisyah Ra.

Artinya :

Dari Aisyah (isteri Rasulullah SAW) semoga Allah SWT ridho kepada nya, Aisyah mengatakan : “Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke rumahku, lalu dia bertanya, (wahai Aisyah) adakah engkau mempunyai sesuatu makanan untukku? Maka Aisyah menjawab tidak ada,  Lalu Rasulullah SAW menjawab kalau begitu, sesungguhnya aku puasa saja (maksudnya puasa sunat). Kemudian pada suatu hari yang lain beliau datang lagi kepada kami. Lalu kami tawarkan , Yaa Rasulullah SAW, kami beri hadiah makanan haes (dari kurma dicampur tepung dan samin) engkau mau ? Rasulullah SAW menjawab : “ Coba tunjukkan kepadaku, sesungguhnya dari pagi aku berpuasa, lalu beliau makan membatalkan puasanya.” (HR. Muslim)

7. Hal-hal yang membatalkan puasa

Hal-hal yang membatalkan ibadah puasa itu ada enam perkara:

1) Makan dan minum pada siang hari dengan sengaja.

Barangsiapa yang makan dan minum pada siang hari dengan sengaja tanpa ada alasan syar’i, maka Rasulullah SAW mengancam puasa orang itu, dengan tidak dapat diganti meskipun dengan melaksanakan sepanjang tahun.

“Dari Abu Hurairah Ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa berbuka satu hari saja (pada bulan Ramadhan) tanpa ada alasan keringanan (rukhsah), tidak pula karena sakit, maka dia tidak dapat mengganti puasanya itu walaupun dengan melakukan puasa seumur hidup alias sepanjang tahun” (HR. Bukhari)

Lain halnya kalau orang yang puasa itu (sha’im) dalam keadaan lupa. Orang yang lupa memakan atau meminum sesuatu padahal dia dalam keadaan berpuasa, maka Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut menyempurnakan puasanya sampai terbenam matahari.

Artinya :

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa lupa pada padahal dia berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya itu(sampai terbenam matahari), karena sesungguhnya Allah SWT telah memberi makan dan minum kepada nya (HR. Muttafaqun ‘alaih) ”

2) Bersebadan pada siang hari.

Melakukan jima’ atau bersebadan antara suami – istri pada siang hari bulan Ramadhan sungguh dilarang oleh syari’at. Barangsiapa melanggarnya akan dikenakan kaffarat, atau hukuman yang setimpal. Yakni: Memerdekakan seorang budak atau hamba sahaya, kalau tidak mampu maka ia harus puasa 2 (dua) bulan berturut-turut diluar bulan Ramadhan kalau tidak mampu maka ia harus memberi makan 60 (enam puluh) orang miskin.

Seperti terjadi pada masa Rasulullah seorang laki-laki telah bersebadan dengan istrinya pada siang hari bulan Ramadhan kemudian ia mengadu kepada Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

“Apakah kamu mempunyai sesuatu (harta) untuk memerdekakan seorang budak? Laki-laki itu menjawab: Tidak. Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? kata Rasulullah SAW. Laki-laki itu menjawab tidak. Lalu Rasulullah SAW bertanya untuk kali yang berakhir, apakah kamu mempunyai makanan untuk memberi makan 60 orang miskin? Laki-laki itu menjawab: Tidak. Lalu Rasulullah SAW duduk dan memberikan kepada laki-laki itu satu karung kurma. Lantas beliau bersabda: Bersedekahlah kamu dengan kurma ini!” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

3) Mengeluarkan mani dengan sengaja.

4)Keluar darah haid (menstruasi) atau darah nifas sehabis melahirkan.

5)Makan, minum dan merokok.

6)Murtad, yakni keluar dari agama Islam.

8. Amalan yang disunnahkan Selama Puasa.

Ada sepuluh amalan yang disunnahkan selama kita berpuasa:

1) Menyegerakan berbuka apabila telah masuk waktu maghrib (ghurub al syamsi). Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

“Dari Sahal bin Sa’ad, Nabi Muhammad SAW bersabda: Manusia(Orang) yang puasa senantiasa dalam kondisi baik (sehat) selama mereka menyegerakan berbuka (ta’jil)” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

2) Berbuka dengan buah yang segar, kurma atau meminnum seteguk air

Artinya :

“Dari Anas semoga Allah ridha kepadanya, adalah nabi Muhammad SAW berbuka puasa sebelum shalat maghrib dengan beberapa buah kurma segar (ruthab), jika tidak ada beliau berbuka dengan beberapa buah kurma kering, jika tidak ada beliau berbuka dengan meminum seteguk air, karena sesungguhnya air itu adalah suci lagi melepaskan dahaga” (HR. Turmudzi)

3) Membaca do’a sebelum berbuka puasa.

 Artinya :

“Ya Allah! Untuk Engkau aku berpuasa, dan dengan rezkiMu aku berbuka, haus telah pergi, urat-urat (tenggorokan) telah segar kembali. Dan isnya Allah pahala telah Engkau tetapkan” (HR. Daruqutni)

4) Makan sahur untuk meraih keberkahan.

Artinya :

“Dari Anas Ra., Nabi Muhammad SAW bersabda: Hendaklah kamu makan sahur. Karena sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

5) Memperlambat makan sahur dan mempercepat berbuka puasa.

Artinya :

“Dari Abu Dzar Al Ghifari, Nabi Muhammad SAW bersabda: Umatku itu senantiasa dalam kondisi sehat dan baik sepanjang mereka mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka puasa” (HR. Ahmad)

6) Memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa.

Artinya :

“Dari Zaid bin Khalid, Nabi Muhammad SAW, bersabda: Barangsiapa memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan yang berpuasa itu. Dan pahala orang yang berpuasa itu tidak dikurangi sedikitpun” (HR. Turmudzi)

7) Memperbanyak bersedekah pada bulan Ramadhan.

Artinya :

“Wahai Rasulullah! Sedekah apakah yang paling utama? Rasulullah SAW, menjawab: Sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Turmudzi)

8) Memperbanyak membaca Al Qur’an.

 Artinya :

“Bahwa sesungguhnya malaikat Jibril AS, menjumpai Nabi Muhammad SAW setiap tahun bulan Ramadhan untuk memeriksa hafalan Al Qur’an beliau. Maka untuk itu Rasulullah SAW menyetorkan hafalan Al Qur’an kepada Jibril AS” (HR. Bukhari Muslim)

9) Memperbanyak i’tikaf di masjid terutama pada sepuluh malam terakhir.

Artinya :

“Adalah nabi Muhammad SAW bersungguh-sungguh (beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari berakhir bulan Ramadhan. Beliau bersungguh-sungguh tidak seperti pada hari-hari diluar bulan Ramadhan”(HR. Muslim)

10) Menjauhkan diri dari akhlak tercela.

Artinya :

“Nabi Muhammad SAW bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka hendaklah ia meninggalkan perbuatan rafas (bicara porno) dan kata-kata kotor. Jika ada orang mencelanya, maka hendaklah ia meresponnya dengan perkataan “Sesungguhnya saya sedang berpuasa’” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Artinya :

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perkataan bohong dan amal-amal dusta, maka Allah SWT tidak lagi berkepentingan dengan ibadah puasanya itu, meskipun ia tetap meninggalkan makan dan minum (siang hari Ramadhan)” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

9. Orang yang boleh berbuka

Yang dimaksud dengan orang yang boleh berbuka adalah orang yang mempunyai kewajiban untuk berpuasa, tapi karena ada alasan tertentu, orang tersebut mendapatkan keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa. Orang yang dimaksud sebagaimana tertera di bawah ini:

1) Orang sakit Yaitu ia berpuasa penyakitnya akan semakin bertambah dan akan membahayakan dirinya. Maka sebagai gantinya, ia berpuasa di hari lain (Qadla) di luar Ramadhan sebanyak hari yang dia tinggalkan. Jika sekiranya orang sakit tidak mampu mengqadha’ puasa pada hari yang lain, karena penyakitnya maka dia cukup mengeluarkan fidyah yakni memberi makan seorang fakir miskin untuk satu hari puasa yang dia tinggalkan.

2) Orang musafir . Yaitu orang yang sedang menempuh perjalanan jauh (3 farsakh/mil dari batas wilayah) yang sangat melelahkan. Maka dia boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan sebanyak hari yang dia tinggalkan.

3) Orang yang tidak mampu lagi berpuasa. Yaitu orang yang sangat tua dan sangat lemah fisiknya. Sebagai gantinya dia cukup mengeluarkan fidyah yakni memberi makan seorang fakir miskin untuk hari puasa yang dia tinggalkan.

4) Wanita hamil dan menyusukan bayi. Puasanya diganti dengan fidyah saja. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 184:

Artinya :

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin.(QS. Al Baqarah (2) : 184)

Rasulullah bersabda :

Artinya : “Sesungguhnya Allah menggugurkan  Kewajiban Puasa atas Orang Hamil, Menyusui, dan Tua Renta (HR. Imam Thabrani)”

10. Hikmah puasa Ramadhan diantaranya adalah :

1) Puasa akan membentuk jiwa seseorang semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan melatih jiwa untuk banyak bersabar, bertawakal, berdzikir kepada Allah selama puasa hingga jiwa menjadi lembut dan bercahaya.

2) Puasa akan melatih diri untuk meningkatkan kepedulian sosial, turut merasakan kepedihan orang miskin, meningkatkan rasa kasih sayang, sehingga akan selalu berusaha untuk saling tolong menolong dan melakukan berbagai kebaikan buat orang lain.

3) Puasa akan melatih diri untuk mampu mengekang hawa nafsu, mencegah sikap rakus, serakah dan perbuatan jahat lainnya serta mengajak untuk selalu mensyukuri nikmat.

4) Puasa dilihat dari segi kesehatan badan, dapat menyehatkan pencernaan, menghancurkan racun-racun dalam tubuh dan membuang lemak-lemak berbahaya, sehingga seorang yang berpuasa akan bertambah sehat.

5) Puasa mendidik pelakunya senantiasa berlaku jujur.