I. Pengertian I’tikaf

I’tikaf menurut arti bahasa yaitu berada / berdiam disuatu tempat, dengan maksud tekun membuat keterikatan diri dengan sesuatu yang berupa kebaikan atau keburukan.

Surat Al Anbiya 21:52 :

إِذْ قَالَ ِلأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Artinya :

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung Apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?"

 

Menurut istilah I’tikaf yaitu berdiam di masjid untuk mendekatkan atau tagarrub kepada Allah SWT, baik dilakukan di siang hari atau di malam hari, baik di bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan.

Walaupun ummat islam pada umumnya menganggap bahwa I’tikaf dilakukan hanya di bulan Ramadhan, itupun kadang-kadang hanya sepuluh hari terakhir saja. Padahal Rasulullah I’tikafnya sebulan Ramadhan dan ditingkatkan pada sepuluh hari terakhir. Sebagaimana diceritakan oleh anak asuh beliau yang bernama Abdullah Bin Umar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ (رواه ابن ماجه)

Artinya : Dari Ibnu Umar ia berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW, beliau I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (Riwayat Ibnu Majah)

II. Macam-macam I’tikaf

I’tikaf ada dua macam, I’tikaf yang hukumnya sunnah dan I’tikaf yang hukumnya wajib.

1.I’tikaf yang Hukumnya Sunnah

I’tikaf yang hukumnya sunnah yaitu I’tikaf yang dilakukan secara sukarela dengan niat hanya untuk mendekatkan diri dan mengharap ridha semata-mata.

Contohnya : I’tikaf Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan.

2. I’tikaf yang Hukumnya Wajib

I’tikaf yang hukumnya wajib yaitu I’tikaf untuk memenuhi nadzar.

Contohnya : Kalau maksud berhasil, insya Allah akan bernadzar untuk I’tikaf di masjid selama sebulan.

I’tikaf yang semula hukumnya sunnah, seketika berubah menjadi wajib, karena ia bernadzar kepada Allah.

Nadzar yaitu :

اِيْجَابُ مَالَيْسَ بِوَاجِبٍ

Artinya : Mewajib sesuatu yang asal hukumnya tidak wajib (Sunnah).

Oleh karena itu, tidak boleh seseorang bernadzar untuk hal-hal yang asal hukumnya wajib.

Contohnya :

1) Jika lulus ujian ke perguruan tinggi negeri, bernadzar puasa Ramadhan selama satu bulan.

2) Jika jadi bersama dengan A, bernadzar menunaikan rukun islam yang ke 5, yaitu pergi haji ke Baitullah.

I’tikaf yang dinadzarkan jatuhnya pada wajib hukumnya, bukan sunnah.

Siti Aisyah berkata :

مَنْ نَذَرَأَنْ يُطِيْعَ فَلْيَصْعَهُ (رواه البخاريّ)

Artinya : barang siapa bernadzar untuk memenuhi sesuatu,maka penuhilah. (Riwayat Bukhori)

Sahabat Rasulullah yaitu Umar Bin Khatab pernah berkata sebagai berikut :

يَارَسُوْلَ اللهِ اِنِّى نَذَرْتُ أَنْ اَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ. فَقَالَ: أَوْفِ بِنَذْرِكَ (رواه البخاريّ)

Artinya : Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bernadzar untuk I’tikaf satu malam di masjidil haram, maka Rasulullah bersabda tunaikan nadzarmu itu. (Hadist Bukhori)

III. Syarat-syarat I’tikaf dan Rukunnya

1. Muslim / muslimah.

2. Dewasa (Mumayyiz).

3. Bersih dari hadast kecil (Berwudhu terlebih dahulu).

4. Bersih dari hadast besar (Haid atau nifas).

5. Dilakukan di masjid (Baik masjid yang digunakan untuk shalat jum’at, maupun yang tidak dipergunakan untuk shalat jum’at, yang di pulau Jawa disebut mushollah).

6. Berniat untuk melakukan I’tikaf karena Allah semata-mata.

IV. Hal-hal yang Disunnahkan Ketika Melaksanakan I’tikaf

1.Memperbanyak dzikir, baik berupa tasbih, tahmid dan takbir, istighfar, shalawat atas nabi Muhammad maupun doa, sholat jum’at dan sebagainya.

2.Tadabur : belajar memahami al qur’an dengan mengaitkan ayat dengan ayat, ayat dengan asbabun nuzul (peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya ayat), ayat dengan hadist dan ayat dengan ilmu pengetahuan.

3. Mempelajari ilmu lain seperti hadist : nabi menelaah buku-buku tafsir dan sebagainya.

V. Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf

1. Meninggalkan atau keluar masjid yang tidak ada kaitannya dengan I’tikaf walaupun sebentar, kecuali karena batal wudhu lalu ia keluar masjid untuk berwudhu.

2. Haid atau Nifas.

3. Hilangnya kesadaran, karena pingsan umpanya.

4. Tidak mendekati istri  atau bermesraan.

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِى الْمَسَجِدِ...(البقرة: 187)

5. Murtad atau Keluar dari islam.