Awal Mula Berdirinya
Masjid Agung Al Azhar bermula dari sebuah mushola kecil yang dibangun pada tahun 1952 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mushola ini didirikan atas prakarsa masyarakat setempat yang menginginkan tempat ibadah yang memadai di lingkungan pemukiman baru tersebut.
Peresmian dan Pemberian Nama
Pada tahun 1958, mushola tersebut berkembang menjadi masjid yang lebih besar dan diresmikan dengan nama "Masjid Agung Kebayoran". Dua tahun kemudian, pada tahun 1960, setelah kunjungan bersejarah Grand Syeikh Al Azhar dari Mesir, Mahmoud Shaltout, masjid ini resmi berganti nama menjadi "Masjid Agung Al Azhar" sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan.
Pusat Pendidikan dan Dakwah
Sejak dekade 1970-an, Masjid Agung Al Azhar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Di bawah naungan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar, masjid ini menjadi pusat pendidikan Islam terkemuka yang menaungi sekolah-sekolah mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi. Ribuan alumni telah dihasilkan dan tersebar di seluruh Indonesia.
Renovasi dan Modernisasi
Memasuki tahun 2000-an, Masjid Al Azhar mengalami renovasi besar-besaran untuk meningkatkan kapasitas dan fasilitas. Renovasi ini mencakup perluasan area sholat, perbaikan sistem pendingin udara, pembaruan sound system, dan penataan ulang area wudhu yang lebih modern dan higienis.
Era Modern
Saat ini, Masjid Agung Al Azhar telah menjadi salah satu ikon masjid modern di Indonesia. Dengan kapasitas lebih dari 5.000 jamaah, masjid ini menjadi pusat kegiatan ibadah, pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.